Ada kesalahan di dalam gadget ini

Rabu, 27 Juni 2012

Manajemen Input, Proses, dan Output PAUD


BAB II
PEMBAHASAN
Manajemen Input, Proses, dan Output PAUD

A.      Manajemen Input Anak Didik
Sekolah yang memiliki input manajemen yang memadai untuk menjalankan roda sekolah. Kepala sekolah dalam mengatur dan mengurus sekolahnya menggunakan sejumlah input manajemen. Kelengkapan dan kejelasan input manajemen akan membantu kepala sekolah mengelola sekolanya dengan efektif. Input manajemen yang dimaksud meliputi; tugas yang jelas, rencana yang rinci dan sitematis, program yang mendukung bagi pelaksanaan rencana, ketentuan-ketentuan (aturan main) yang jelas sebagai panutan bagi warga sekolahnya untuk bertindak, dan adanya sistem pengendalian mutu yang efektif dan efisien untuk meyakinkan agar sasaran yang telah disepakati dapat dicapai. Dapat di simpulkan bahwa Input Pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Sesuatu yang dimaksud berupa sumberdaya dan perangkat lunak serta harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses, misalnya ketenagaan, kurikulum, peserta didik, biaya, organisasi, administrasi, peranserta masyarakat, kultur sekolah dan sub komponen, regulasi, sarana dan prasarana.
Input dalam kelembagaan mencangkup banyak hal. Beberapa diantaranya input kurikulum, input sarana prasarana, input anak didik, dan lain sebagainya. tetapi manajemen input yang akan dibahas disini dibatasi pada manajemen input anak didik.
Pembahasan secara khusus dan eksplisit tentang manajemen input dipandang penting karena manajemen dibidang inisangat menentukan perkembangan atau majunya sebuah lembaga PAUD. Artinya lembaga PAUD dikatakan berkembang dan maju jika mendapatkan input anak didik yang kuota yang telah ditentukan. Dengan kata lain besar kecilnya sebuah lembaga PAUD diukur dari seberapa besar jumlah orang tua dan masyarakat yang mempercayakan anak-anak mereka kepada lembaga yang bersangkutan.
Memang, tolak ukur ini ditinjau secara kuantitas atau sedikit banyaknya anak didik, bukan secara kualitas. Tetapi kualitas di lingkungan PAUD pada dasarnya mencerminkan kualitas lembaga PAUD tersebut. Logika sederhananya, jika memang lembaga PAUD yang bersangkutan tidak berkualitas, hampir bisa dipastikan tidak ada orang tua yang mempercayakan anak kandungnya pada lembaga itu. Sebaliknya jika lembaga PAUD tersebut berkualitas sangat baik hampir dipastikan  bahwa orang tua dan masyarakat orang sekitar akan mempercayai anak kandung mereka kepada lembaga PAUD tersebut.
1.        Penerimaan Calon Anak Didik Baru
Setiap tahun semua lembaga pendidikan tanpa terkecuali lembaga PAUD selalu mempunyai hajat besar yakni penerimaan siswa baru atau penerimaan calon anak didik baru. Disisi lain semua orang tua yang mempunyai anak usia dini juga sibuk mencari lembaga pendidikan yang sesuai dengan harapannya. Dengan demikian terjadi kondisi yang saling melengkapi antara program pendidikan dengan kebutuhan orang tua yakni mensekolahkan anak-anak nya. Banyaknya lembaga pendidikan membuat seperti kompetensi yang membawa dampak pada motivasi secara internal ditubuh masing-masing lembaga pendidikan yang bersangkutan.
Dalam konteks kompetensi mendapatkan input calon anak didik yang terbaik inilah yang diperlukan manajemen input yan efektif dan efesien. Tanpa adanya pola manajemen input yang baik, maka lembaga PAUD akan kesulitan memenuhi kuota minimal jumlah anak didik yang dicanangkan bahkan akan memenuhi kendala besar dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak didik.
Secara sederhana, manajemen input anak didik PAUD meliputi tiga hal yakni:
a.    Pendaftaran
Setiap calon anak didik yang masuk kelembga pendidikan pasti melewati proses yang disebut dengan pendaftaran. Dalam pendaftaran inilah identitas calon anak didik dapat diketahui dengan jelas. Selanjutnya identitas diri tersebut akan menjadi pertimbangan diterima atau tidaknya calon anak didik yang brsangkutan. Biasanya faktor utama diterimanya atau tidaknya adalah faktor usia.
b.    Tes wawancara secara sederhana
Hal ini sangat jarang dilakukan kecuali wawancara yang sifatnya menjadi karakter anak. Misalnya berat dan tingginya berapa, kesukaan atau hobinya apa, kalau menangis biasanya mengatasinya bagaimana, dan lain sebagainya. tentu ketika wawancara didampingi orang tuanya karna justru orangtualah yang menjawab sebagian besar pertanyaan penyeleksi. Tetapi hasil wawancara ini sangat kecil dipertimbangkan diterimanya atau tidaknya anak tersebut.
c.    Pembiayaan atau admnistrasi
Setelah anak didik dinyatakan diterimamaka proses selanjunya adalahpenyelesaian administrasi. Biasanya persoalan pokok dalam hal ini adalah pelunasan pembayaran pendidikan. Setiap calon anak didik baru dikenai sejumlah biaya untuk pengadaan seragam anak, sumbangan pengembangan kelembagaan, dan biaya pendidikan.
1.        Seleksi
Bagi lembaga PAUD yang telah maju dan bekembang, ketika penerimaan siswa baru pasti dibanjiri calon anak didik yan diantar oleh orang tuanya. Maka dari itu proses seleksi dilaksanakan. Walau demikian sebagaimana disebutkan bahwa lembaga PAUD tidak boleh menoak anak berkebutuhan khusus, autis, atau cacat mental. Sebab hingga saat ini belum ada sekolah luar biasa untuk anak usia dini (SLB PAUD).
Ada dua yang menjadi pilihan bagaimana proses seleksi dilakukan agar tidak banyak menolak calon anak didik yaitu :
1.         Proses seleksi berdasarkan usia kronologis dan usia mental. Artinya, lembaga PAUD harus benar-benar menaati peraturan pada usia berapa anak boleh masuk di TK/RA, KB maupun TPA. Disamping itu, seleksi juga harus diperhatikan faktor usia mental. Artinya walaupun anak berumur 4 tahun, tetapi secara mental masih terlalu kekanak-kanakan maka sebaiknya penerimaan ditunda tahun depan atau jika lembaga tersebut membuka kelas KB maka ia boleh masuk pada kelas KB. Dengan demikian usia mental membawa dua pilihan yaitu ditunda penerimaannya pada tahun depan atau masuk pada kelas dibawahnya.
2.         Melakukan pengembangan atau perluasan kelembagaan. Tetapi jika ini terlalu jauh bisa membuka kelas baru dan menambah jumlah tenaga kependidikan.
B.       Manajemen Proses
Manajemen proses adalah pengelolaan pendidikan yang mencangkup segala aspek pembelajaran. Dengan demikian manajemen proses adalah pengelolaan bagaimana caranya agar proses pembelajaran dilembaga PAUD dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efesien. Karena proses pembelajaran di PAUD adalah syarat dengan permainan edukatif, maka sebagian besar proses pendidikan juga harus dengan permainan.
Dalam berbagai penelitian disebutkan bahwa anak belajar dengan bermain. Inilah sebabnya banyak lembaga PAUD yang menggunakan selogan “belajar seraya bermain”.fungsi manajemen proses adalah mengelola agar anak didik dapat bermain atau belajar dengan teratur, penuh semangat dan rasa riang. Sebab dengan bermainlah anak-anak hidup bahagia dan menjadi cerdas karenanya.
Hingga saat ini hampir semua lembaga PAUD telah menyadari arti akan pentingnya bermain bagi anak. Tetapi bagi orang tua sepertinya bermain masih dipandang sebelah mata. Oleh karena itu jika lembaga PAUD berharap anak didiknya tumbuh kembang dengan cedas maka salah satu caranya adalah menguatkan keluarga (orang tua) terutama arti pentingnya bermain bagi anak-anak mereka. Sebab secara tidak langsung rumah adalah “sekolah” pertama dan utama bagi anak-anak. Alasannya waktu belajar melalui bermain jauh lebih banyak dirumah dari pada dilembaga PAUD. Oleh karena itu jika anak-anak di PAUD diajarkan berbagai bentuk permainan, maka dirumahlah anak-anak mempraktikkannya ulang dan mengembangkan permainan yang diperoleh disekolah PAUD tersebut.
Nah kondisi belajar melalui bermain yang demikian itu tidak akan terjadi jika orang tua tidak mempunyai pandangan yang sama dengan sekolah (PAUD) mengenai arti pentingnya bermain bagi anak. Dalam hal ini lembaga PAUD harus menyosialisasikan program bermain untuk anak kepada orang tua. Salah satu bentukya yaitu dengan cara mengadakan pengajian rutin setiap bulan yang dihadiri oleh masyrakat sekitar, wali siswa, dan guru-guru PAUD. Kegiatan semacam ini merupakan bagian dari manajemen proses dalam kelembagaan PAUD.
Proses Pendidikan merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsungnya proses disebut input, sedangkan sesuatu dari hasil proses disebut output. Dalam pendidikan (tingkat sekolah) proses yang dimaksud adalah proses pengambilan keputusan, proses pengelolaan kelembagaan, proses pengelolaan program, proses belajar mengajar, dan proses monitoring dan evaluasi, dengan catatan bahwa proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tinggi dibandingkan dengan proses-proses yang lain.

C.      Manajemen Output
Output adalah dampak dari sebua proses. Dengan kata lain jika proses baik maka dipastikan hasil outputnya juga baik. Demikian pula sebaliknya jika proses tidak baik maka outputnya tidak baik. Karena outputhanya sebatas dampak atau akibat sebuah proses. Hal ini bekaitan dengan sistem evaluasi yang dilaksanakan lembaga PAUD yang bersangkutan. Sebab hanya dengan evaluasilah akan ditemukan tolak ukur keberhasilan yang jelas mengenai capaian tumbuh kembang anak.
Didalam evaluasi proses pembelajaran PAUD akan ditemukan sejumlah gambaran atau sajian informasi lengkap tentang perubahan aspek perkembangan anak didik setelah melalui serangkaian proses pembelajaran yang sangat panjang. Evaluasi biasanya dilakukan setelah pelaksanaan program pembelajaran yang disebut SKH. Dari sinilah dapat diketahui bagaimana para guru melakukan identifikasi langsung berbagai keberhasilan anak ketika proses pembelajaran sedang berlangsung.
Biasanya evaluasi pencatatan didalam SKH hingga ilustrasi dalam bentuk tabel sebagaimana dijelaskan diatas dilakukan setiap minggu sekali. Tetapi pencatatan SKH tetap dilakukan setiap hari. Kemudian catatan dalam SKH akan menjadi data awal setiap aktivitas pembelajaran berikutnya. Dengan demikian setiap anak akan mendapatkan aktivitas pebelajaran yang sesuai dengan tumbuh kembangnya.
Proses evaluasi hingga menghasilkan gambaran hasil output anak didik memang sangat rumit. Tetapi justru dengan kerumitan itulah tumbuh kembang anak secara lengkap dan utuh dapat diketahui dengan jelas.
Manajemen output adalah rekapitulasi hasil evaluasi dari hari ke hari minggu ke minggu, bulan ke bulan, semester dan semester, tahun ke tahun.semua data evaluasi disusun secara sistematis sehingga pola perkembangan anak dapat dilihat secara sistematis dari hari ke hari hingga tahun ke tahun.
Output Pendidikan sebagai sistem seharusnya menghasilkan output yang dapat dijamin kepastiannya. Output sekolah pada umumnya adalah merupakan kinerja sekolah. Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses/perilaku sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya, efektifitasnya, produktivitasnya, efisiensinya, inovasinya, kualitas kehidupan kerja, dan moral kerjanya. Oleh karena demikian dapat disimpulkan bahwa output sekolah yang diharapkan adalah prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di sekolah.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar